AKAD
DAN JUAL BELI
Guna
Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Fiqh Muamalah II
Dosen Pengampu : M. Mujib Hidayat, M. Pd.I
Disusun Oleh :
1.
Mukhammad Bukhori (2014114001)
PROGRAM STUDI HUKUM
EKONOMI SYARIAH
JURUSAN SYARIAH
SEKOLAH TINGGI
AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas berkat rahmat dan
karuniaNyalah, makalah yang berjudul “Akad
dan Jual Beli ” ini dapat terselesaikan.
Makalah ini
dibuat guna memenuhi tugas dari dosen mata kuliah Fiqh Muamalah II Bapak M. Mujib Hidayat, M. Pd.I di STAIN Pekalongan. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada
semua pihak yang terlibat dan berkenan membantu dalam proses pembuatan makalah
ini.
Penulisan
makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna perbaikan
penulisan makalah yang akan datang. Walaupun demikian, kami berharap
makalah ini bisa bermanfaat bagi kita
semua.
Pekalongan, 10
Februari 2016
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai mahluk
sosial, manusia tidak bisa lepas untuk berhubungan dengan orang lain dalam
memenuhui kebutuhan hidupnya. Hubungan antara satu manusia dengan manusia lain
dalam memenuhi kebutuhan, harus terdapat aturan yang menjelaskan hak dan
kewajiban dengan berdasarkan kesepakatan.
Dalam
pembahasan fiqh, dalam bertransaksi atau hubungan dibutukan sebuah akad, yang
mana akad tersebut sangat bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan, misalkan saja
akad jual beli. Dan pada makalah ini saya akan membahas akad dalam jual beli.
Jual beli
Adalah proses pemindahan hak milik/barang atau harta kepada pihak lain dengan
menggunakan uang sebagai alat tukarnya. Menurut etimologi, jual beli adalah
pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain). Kata lain dari jual beli adalah
al-ba’i, asy-syira’, dan at-tijarah.
Sebagai bagian
dari hukum Islam yang mana merupakan suatu prinsip yang sangat besar dan
terdapat pijakan berupa keadilan dalam memperhatikan kemaslahatan manusia
seluruhnya.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian, rukun dan syarat akad ?
2.
Apa pengertian, dasar hukum, rukun
dan syarat jual beli ?
3.
Apa bentuk-bentuk jual beli ?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian, rukun, dan syarat
akad.
2.
Untuk mengetahui pengertian, dasar hukum, dan
syarat jual beli.
3.
Untuk mengetahui bentuk-bentuk jual beli.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akad
Menurut bahasa akad mempunyai
beberapa arti, antara lain:
1.
Mengikat ( الرَّبْطُ ), yaitu:
Mengumpulkan
dua ujung tali dan mengikat salah satunya dengan yang lain sehingga tersambung,
kemudian keduanya menjadi sepotong benda.
2.
Sambungan ( عَقْدَةٌ ), yaitu:
Sambungan yang
memegang kedua ujung itu dan mengaitkanya.[1]
3.
Janji ( اَلْعَهُدُ ), sebagaimana dijelaskan dalam
Al-Qur’an:
بَلَى
مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ -٧٦-
“Ya barangsiapa menepati janji dan bertakwa, maka
sungguh, Allah Mencintai orang-orang yang bertakwa.”(QS.Ali-imran 76).
Menurut
istilah (terminologi), yang dimaksud dengan akad adalah berkumpulnya serah
terima di antara dua pihak atau perkataan seseorang yang berpengaruh pada kedua
pihak, atau perikataan ijab dan qabul yang dibenarkan syara’ yang menetapkan
keridhaan kedua belah pihak.
B. Rukun-rukun akad
Setelah
diketahui bahwa akad merupakan sesuatu perbuatan yang sengaja dibuat oleh dua
orang atau lebih berdasarkan keridhaan masing-masing, maka dari itu kita harus
mengetahui rukun-rukun akad sebagai maka
dari itu kita harus mengetahui rukun-rukun akad sebagai berikut:[2]
1)
‘Aqid ialah orang yang berakad
2)
Ma’qud ‘alaih ialah benda-benda yang diakadkan
3)
Maudhu’ al ‘aqd ialah tujuan atau maksud pokak mengadakan akad.
4)
Shighat al’aqd ialah ijab dan qabul
C. Syarat-syarat
akad
Syarat-syarat terjadinya akad ada
dua macam, yaitu:
a)
Syarat-syarat yang bersifat umum,
yaitu syarat syarat yang wajib sempurna wujudnya dalam berbagai akad.
Yang merupakan syarat-syarat umum
akad yaitu:
1.
Pihak-pihak yang melakukan akad
ialah dipandang mampu bertindak menurut hukum, apabila belum mampu harus
dilakukan oleh walinya.
2.
Objak akad itu diketahui oleh syara’
3.
Akad itu tidak dilarang oleh nash
syara’
4.
Akad yang dilakukan itu memenuhi
syarat-syarat khusus dengan akad yang bersangkutan, disamping harus memenuhi
syarat-syarat umum.
5.
Akad itu bermanfaat.
6.
Ijab tetap utuh sampai terjadinya
qobul.[3]
b)
Syarat syarat yang bersifat khusus,
yaitu syarat-syarat yang wujudnya ada dalam sebagian akad. Syarat khusus ini
bisa juga disebut syarat tambahan yang harus ada disamping syarat umum, seperti
syarat adanya saksi dalam pernikahan.
D. Pengertian
Jual Beli Dalam Islam
Jual
beli dalam istilah Fiqh disebut dengan al-bai’ yang berarti menjual,
mengganti, menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain,[4]
Jual beli diartikan juga :
مُقَابَلَةُ الشَّيْءِ بِالشَّئِ
Artinya :
“pertukaran
sesuatu dengan sesuatu(yang lain)”
Pengertian jual beli (البيع) secara syara’ adalah tukar menukar harta dengan harta untuk
memiliki dan memberi kepemilikan. Kata lain dari al-bai’ adalah asy-syira’,
al-mubadah dan at-tijarah. Pengertian jual beli menurut para ahli :[5]
Menurut
ulama Hanafiyah:
مُبَادَلَةُ مَالٍ بِمَالٍ عَلَى وَجْهٍ
مَخْصُوْصٍ
Artinya:
“pertukaran harta (benda) dengan harta
berdasarkan cara khusus (yang dibolehkan)”
Menurut imam Nawawi dalam kitab
Al-Majmu:
مُقَبَادَلَةُ مَالٍ بِمَالٍ تَمَلِكًا
Artinya:
“pertukaran harta dengan harta untuk
kepemilikan.”
Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab
Al-Mugni:[6]
مُبَادَلَةُ المَالٍ بِاالْمَالٍ تَمْلِيْكًا
وَتَمَلُّكًا
Artinya
:
“pertukaran harta dengan harta untuk
saling menjadikan milik “
Dari beberapa definisi di atas dapat
dipahami bahwa jual beli ialah suatu perjanjian tukar menukar benda atau barang
yang mempunyai nilai secara ridha di antara kedua belah pihak, yang satu
menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau
ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati.
E. Landasan
Syara’
Jual beli disyariatkan berdasarkan :[7]
a)
Al-Quran
jual beli telah disahkan oleh Al-Qur’an , adapun dalilnya adalah QS. Al Baqarah/2:275
... وَأَحَلَّ
اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ...
Artinya : “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba.
Dalam QS. Al-Baqarah: 282
وَأَشْهِدُوا
إِذَا تَبَايَعْتُمْ
Artinya
“ dan
persaksikanlah apabila kamu berjual beli “
yang lain yaitu QS.an Nisaa/4;29:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ
إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً
عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ
Artinya;
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sekalian memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama suka diantara kamu”
b)
Sunah.
سُئِلً
النَّبِيُّ ص. م.: اَيُّ الكَسْبِ أَطْيَبُ ؟ فقال: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِه
وَكُلُّ بِيْعٍ مَبْرُوْرٍ .(رواه البزار وصححهالحاكم عن رفاعة ابن الرافع )
Artinya :
“Nabi SAW. ditanya
tentang mata pencaharian yang paling baik . Beliau menjawab, Seseorang bekerja
dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur”
(HR. Bajjar, Hakim
menyahihkannya dari Rifa’ah Ibn Rafi )
Maksud mabrur dalam hadist adalah jual beli yang terhindar dari
usaha tipu-menipu dan merugikan orang lain.
c)
Ijma
Ulama telah
sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan
mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun demikian,
bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkanya itu, harus diganti
dengan barang lainnyayang sesuai.
F. Rukun dan pelaksanaan jual beli
Rukun jual menurut jimhur Ulama ada empat :[8]
a)
Bai’ (penjual)
b)
Mustari (pembeli)
c)
Shighat (ijab dan qabul)
Ijab dan Kabul. Ulama fiqh sepakat, bahwa
unsur utama dalam jual beli adalah kerelaan antara penjual dan pembeli. Karena
kerelaan itu berada dalam hati, maka harus diwujudkan melalui ucapan ijab (dari
pihak penjual) dan kabul (dari pihak pembeli).
d)
Ma’qud ‘alaih (benda atau barang).
G. Syarat jual beli
Dalam jual beli terdapat empat
syarat. Yaitu
syarat terjadinya akad(in’iqad), syarat syah akad, syarat terlaksananya
akad (nafadz), dan lujum.
A.
Syarat terjadinya akad (in’iqad).
Adalah
syarat yang telah ditetapkan syara,. Jika persyaratan ini tidak terpenuhi, jual
beli batal.Syarat ini, ulama Hanafiyah menetapkan empat syarat, yaitu:
1.
Syarat Aqid (orang yang Akad)
Persyaratan aqid sebagai berikut:[9]
a.
Berakal dan mumayyiz
Jual beli yang dilakukan oleh anak kecil yang belum berakal dan
orang gila hukumnya tidak sah. Adapun
anak kecil yang sudah mumayyis menurut
Ulama hanafiyah dibolehkan asal bermanfaat secara murni, seperti
menerima hibah.
b.
Aqid harus berbilang, sehingga tidaklah sah akad dilakukan seorang diri.
Minimal dilakukan dua orang, yaitu pihak penjual dan pembeli.
2.
Syarat dalam akad
Dalam Ijab-Qabul terdapat tiga syarat,
yaitui :
a.
Ahli Akad
Menurut ulama Hanafiyah, seorang anak yang
berakal dan mumayyiz (berumur tujuh tahun, tetapi belum baligh) dapat menjadi
ahli akad. Ulama Malikiyah dan Hanabaliah berpendapat bahwa akad anak mumayyiz
bergantung pada seizin walinya. Menurut Syafi’iyah, anak mumayyiz yang belum
baligh tidak boleh melakukan melakukan akad sebab ia belum dapat menjaga agama
dan hartanya (masih bodoh). Allah SWT. Berfirman :
وَلاَ تُؤْتُواْ
السُّفَهَاء أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللّهُ لَكُمْ قِيَاماً …..
Artinya ;
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna
akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kamu yang Dijadikan Allah
sebagai pokok kehidupan.” (Q.S. An-Nisa : 5)
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa yang disebut orang-orang
yang belum sempurna akalnya pada ayat di atas adalah anak yatim yang masih
kecil atau orang dewasa yang tidak mampu mengurus hartanya.[10]
b.
Qabul harus sesuai dengan ijab.
c.
Ijab dan Qabul harus bersatu, yakni berhubungan antara ijab dan qabul
walaupun tempatnya tidak bersatu.
3.
Tempat Akad
Harus bersatu atau berhubungan antara ijab
dan qabul.
4.
Ma’qud’alaih (Objek Akad)
Ma’qud’alaih harus memenuhi empat syarat :
a.
Ma’qud alaih harus ada, tidak boleh
akad atas barang – barang yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada, seperti
jual-beli buah yang belum tampak, atau jual beli anak hewan yang masih dalam
kandungan.
b.
Harta harus kuat, tetap, dan bernilai, yakni benda yang mungkin
dimanfaatkan dan disimpan.
c.
Benda tersebut milik sendiri.
d.
Dapat diserahkan.
B.
Syarat terlaksananya akad (Nafadz).
1.
Benda dimliki aqid atau berkuasa untuk akad.
2.
Pada benda tidak terdapat milik orang lain.
Maka tidak boleh menjual barang sewaan atau barang gadai, karena
barang tersebut bukan milik sendiri, kecuali dizinkan oleh pemilik sebenarnya,
yakni jual-beli yang ditangguhkan (mauquf).
Berdasarkan nafadz dan waqaf
(penagguhan), jual beli terbagi dua :
a.
Jual-beli Nafidz
Jual-beli yang dilakukan oleh orang yang
telah memenuhi syarat dan rukun jual-beli sehingga jual-beli tersebut
dikategorikan sah.
b.
Jual-beli mauquf.
Jual-beli yang dilakukan oleh orang yang
tidak memenuhi persyaratan nafadz, yakni bukan milik dan tidak kuasa untuk
melakukan akad, seperti jual-beli fudhul (jual-beli beli milik orang lain tanpa
ada izin). Jika pemiliknya mengizinkan jual-beli fudhul dipandang sah.
Sebaliknya, jika pemilik tidak mengizinkan dipandang batal.[11]
C. Syarat sah akad dalam jual
beli
Syarat ini terbagi atas dua bagian, yaitu
umum dan khusus:
1.
Syarat umum
Adalah syarat-syarat yang berhubungan
dengan semua bentuk jual-beli yang telah ditetapkan syara’. Diantaranya adalah
syarat-syarat yang telah disebutkan di atas . juga harus terhindar kecacatan
jual-beli, yaitu ketidak jelasan, keterpaksaan, pembatasan dengan waktu
(tauqid), penipuan (gharar), kemaharatan, dan persyaratan yang merusak lainnya.[12]
2.
Syarat khusus
Adalah syarat-syarat yang hanya ada pada
barang-barang ternentu. Persyaratannya sebagai berikut:
a.
Barang yang diperjual belikan harus dapat dipegag, yaitu pada
jual-beli benda yang harus dipegang sebab apabila dilepaskan akan rusak atau
hilang.
b.
Harga awal harus diketahui, yaitu pada jual-beli amanat.
c.
Serah terima benda dilakukan sebelumnya berpisah, yaitu pada jual-beli
yang bendanya ada ditempat.
d.
Terpenuhi syarat penerimaan.
e.
Harus seimbang dalam ukuran timbangan, yaitu dalam jual-beli yang
memasuki ukuran atau timbangan.
f.
Barang yang diperjualbelikan sudah menjadi tanggung jawabnya. Oleh
karena itu, tidak boleh menjual barang yang masih berada di tangan penjual.
D. Syarat Lujum (kepastian)
Syarat ini
hanya ada satu, yaitu akad jual-beli harus terlepas atau terbebas dari khiyar
(pilihan) yang berkaitan dengan kedua pihak yang akad dan akan menyebabkan
batalnya akad.[13]
H. Bentuk-Bentuk Jual Beli
Ulama hanafiyah membagi jual beli
dari segi sah atau tidaknya menjadi tiga bentuk, yaitu:
1. Jual beli yang sahih
Suatu jual beli dikatakan sebagai jaul beli yang sahih apabila jual
beli itu disyariatkan, memenuhi rukun dan syarat yang ditentukan; bukan milik
orang lain, tidak tergantung pada hak khiyar lagi.
2. Jual beli yang batal
Jual beli dikatakan sebagai jual beli yang batal apabila salah satu
atau seluruh rukunya tidak terpenuhi, atau jual beli itu pada dasarnya dan
sifatnya tidak disyariatkan, seperti jual beli yang dilakukan anak-anak, orang
gila, atau barang barang yang dijual itu barang yang diharamkan syara’, seperti
bangkai darah, babi, dan khamar.
Jenis-jenis
jual beli yang batil adalah :
a)
Jual beli sesuatu yang tidak ada
b)
Menjual barang yang tidak boleh
diserahkan pada pembeli.
c)
Jual beli yang mengandung unsur
penipuan.
d)
Jual beli benda-benda najis
e)
Jual beli al-‘arbun
f)
Memperjual belikan air sungai, air
danau, air laut, dan air yang tidak boleh dimiliki seseorang.[14]
3. Jual beli yang fasid
Ulama Hanfiayah yang membedakan jual beli fasid dengan jual beli
yang batal. Apabila kerusakan pada jual
beli itu terkait dengan barang yang dijual belikan, maka hukumnya batal,
seperti memperjualbelikan benda-benda haram (khamar, babi, dan darah). Apabila
kerusakan jual beli itu menyangkut harga barang dan boleh diperbaiki, maka jual
beli itu dinamakan fasid.
Akan tetapi, jumhur ulama tidak membedakan antara jual beli yang
fasid dengan jual beli yang batal. Menurut mereka jual beli itu terbagi dua,
yaitu jual beli yang sahih dan jual beli yang batal. Apabila rukun dan syarat
jual beli terpenuhi, maka jual beli sah. Sebaliknya, apabila salah satu rukun
atau syarat jual beli tidak terpenuhi, maka jual beli itu batal.[15]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah kita
menelaah dan menjumpai beberapa materi diatas, bahwa bertransaksi atau hubungan
dibutukan sebuah akad, yang mana akad tersebut sangat bermacam-macam sesuai
dengan kebutuhan, misalkan saja akad jual beli. Bisa diketahui Jual beli ialah
suatu perjanjian tukar menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara
ridha di antara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak
lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan
syara’ dan disepakati.
Maka dapat kita simpulkan bahwa hukum jual
beli pada dasarnya diperbolehkan oleh ajaran islam. Kebolehan ini didasarkan
kepada kepada firman Allah yang terjemahannya sebagai berikut :” janganlah kamu
memakan harta diantara kamu dengan jalan batal melainkan dengan jalan jual
beli, suka sama suka...”(Q.S An-Nisa’ : 29) Dan Hadist Nabi SAW, yang artinya
sebagai berikut : “ Bahwa nabi SAW ditanya tentang, mata pencaharian apakah
yang paling baik ? jawabnya : seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri
dan setiap jual beli yang bersih”.(H.R. Al-Bazzar) maka dari itu ulama sepakat
mengenai kebolehan berjual beli ini sebagai salah satu usaha untuk memenuhi
kebutuhan hidup.
DAFTAR PUSTAKA
Haroen, Nasrun.
2007. Fiqh Muamalah,
Jakarta: Gaya Media Pratama.
Mardani. 2012. Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah. Jakarta: Kencana.
Suhendi, Hendi.
2007. Fiqih
Muamalah. Bandung: Raja
Grafindo.
Syafi’,I Rachmat. 2004. Dasar-Dasar
Fiqih
Muamalah. Bandung: Pustaka Setia.










