Sabtu, 20 Agustus 2016

makalah fiqh muamalah bab akad dan jual beli


AKAD DAN JUAL BELI

Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Fiqh Muamalah II
Dosen Pengampu : M. Mujib Hidayat, M. Pd.I




Disusun Oleh :
1.      Mukhammad Bukhori       (2014114001)


PROGRAM STUDI HUKUM EKONOMI SYARIAH
JURUSAN SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena atas berkat rahmat dan karuniaNyalah, makalah yang berjudul “Akad dan Jual Beli ” ini dapat terselesaikan.
Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas dari dosen mata kuliah Fiqh Muamalah II Bapak M. Mujib Hidayat, M. Pd.I di STAIN Pekalongan. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dan berkenan membantu dalam proses pembuatan makalah ini.
Penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna perbaikan penulisan makalah yang akan datang. Walaupun demikian, kami berharap makalah  ini bisa bermanfaat bagi kita semua.







Pekalongan, 10 Februari  2016


Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Sebagai mahluk sosial, manusia tidak bisa lepas untuk berhubungan dengan orang lain dalam memenuhui kebutuhan hidupnya. Hubungan antara satu manusia dengan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan, harus terdapat aturan yang menjelaskan hak dan kewajiban dengan berdasarkan kesepakatan.

Dalam pembahasan fiqh, dalam bertransaksi atau hubungan dibutukan sebuah akad, yang mana akad tersebut sangat bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan, misalkan saja akad jual beli. Dan pada makalah ini saya akan membahas akad dalam jual beli.

Jual beli Adalah proses pemindahan hak milik/barang atau harta kepada pihak lain dengan menggunakan uang sebagai alat tukarnya. Menurut etimologi, jual beli adalah pertukaran sesuatu dengan sesuatu (yang lain). Kata lain dari jual beli adalah al-ba’i, asy-syira’, dan at-tijarah.

Sebagai bagian dari hukum Islam yang mana merupakan suatu prinsip yang sangat besar dan terdapat pijakan berupa keadilan dalam memperhatikan kemaslahatan manusia seluruhnya.









B.  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian, rukun dan syarat akad ?
2.      Apa pengertian, dasar hukum, rukun dan syarat jual beli ?
3.      Apa bentuk-bentuk jual beli ?
C.  Tujuan
1.      Untuk  mengetahui pengertian, rukun, dan syarat akad.
2.      Untuk  mengetahui pengertian, dasar hukum, dan syarat jual beli.
3.      Untuk  mengetahui bentuk-bentuk jual beli.
















                                                                                                    
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Akad
Menurut bahasa akad mempunyai beberapa arti, antara lain:
1.      Mengikat (  الرَّبْطُ ), yaitu:
Mengumpulkan dua ujung tali dan mengikat salah satunya dengan yang lain sehingga tersambung, kemudian keduanya menjadi sepotong benda.
2.      Sambungan ( عَقْدَةٌ ), yaitu:
Sambungan yang memegang kedua ujung itu dan mengaitkanya.[1]
3.      Janji ( اَلْعَهُدُ ), sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an:
بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ -٧٦-
“Ya  barangsiapa menepati janji dan bertakwa, maka sungguh, Allah Mencintai orang-orang yang bertakwa.”(QS.Ali-imran 76).
Menurut istilah (terminologi), yang dimaksud dengan akad adalah berkumpulnya serah terima di antara dua pihak atau perkataan seseorang yang berpengaruh pada kedua pihak, atau perikataan ijab dan qabul yang dibenarkan syara’ yang menetapkan keridhaan kedua belah pihak.

B. Rukun-rukun akad
Setelah diketahui bahwa akad merupakan sesuatu perbuatan yang sengaja dibuat oleh dua orang atau lebih berdasarkan keridhaan masing-masing, maka dari itu kita harus mengetahui rukun-rukun akad sebagai  maka dari itu kita harus mengetahui rukun-rukun akad sebagai berikut:[2]
1)      ‘Aqid ialah orang yang berakad
2)      Ma’qud ‘alaih ialah benda-benda yang diakadkan
3)      Maudhu’ al ‘aqd ialah tujuan atau maksud pokak mengadakan akad.
4)      Shighat al’aqd ialah ijab dan qabul

C. Syarat-syarat akad
            Syarat-syarat terjadinya akad ada dua macam, yaitu:
a)      Syarat-syarat yang bersifat umum, yaitu syarat syarat yang wajib sempurna wujudnya dalam berbagai akad.
Yang merupakan syarat-syarat umum akad yaitu:
1.    Pihak-pihak yang melakukan akad ialah dipandang mampu bertindak menurut hukum, apabila belum mampu harus dilakukan oleh walinya.
2.    Objak akad itu diketahui oleh syara’
3.    Akad itu tidak dilarang oleh nash syara’
4.    Akad yang dilakukan itu memenuhi syarat-syarat khusus dengan akad yang bersangkutan, disamping harus memenuhi syarat-syarat umum.
5.    Akad itu bermanfaat.
6.    Ijab tetap utuh sampai terjadinya qobul.[3]
b)      Syarat syarat yang bersifat khusus, yaitu syarat-syarat yang wujudnya ada dalam sebagian akad. Syarat khusus ini bisa juga disebut syarat tambahan yang harus ada disamping syarat umum, seperti syarat adanya saksi dalam pernikahan.
D. Pengertian Jual Beli Dalam Islam
Jual beli dalam istilah Fiqh disebut dengan al-bai’ yang berarti menjual, mengganti, menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain,[4] Jual beli diartikan juga :
مُقَابَلَةُ الشَّيْءِ بِالشَّئِ
Artinya :
“pertukaran sesuatu dengan sesuatu(yang lain)”
Pengertian jual beli (البيع) secara syara’ adalah tukar menukar harta dengan harta untuk memiliki dan memberi kepemilikan. Kata lain dari al-bai’ adalah asy-syira’, al-mubadah dan at-tijarah. Pengertian jual beli menurut para ahli :[5]
Menurut ulama Hanafiyah:
مُبَادَلَةُ مَالٍ بِمَالٍ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوْصٍ
Artinya:
     “pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus (yang dibolehkan)”
Menurut imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu:
مُقَبَادَلَةُ مَالٍ بِمَالٍ تَمَلِكًا
Artinya:
            “pertukaran harta dengan harta untuk kepemilikan.”
Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mugni:[6]
مُبَادَلَةُ المَالٍ بِاالْمَالٍ تَمْلِيْكًا وَتَمَلُّكًا
Artinya :
            “pertukaran harta dengan harta untuk saling menjadikan milik “
Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa jual beli ialah suatu perjanjian tukar menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara ridha di antara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati.
E. Landasan Syara’
Jual beli disyariatkan berdasarkan :[7]
a)      Al-Quran
jual beli telah disahkan oleh Al-Qur’an , adapun dalilnya  adalah QS. Al Baqarah/2:275
... وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ...
Artinya : “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.
Dalam QS. Al-Baqarah: 282
وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ
Artinya
            “ dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli “
yang lain yaitu QS.an Nisaa/4;29:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ
Artinya;
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu sekalian memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu”

b)      Sunah.

سُئِلً النَّبِيُّ ص. م.: اَيُّ الكَسْبِ أَطْيَبُ ؟ فقال: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِه وَكُلُّ بِيْعٍ مَبْرُوْرٍ .(رواه البزار وصححهالحاكم عن رفاعة ابن الرافع )


Artinya :
            “Nabi SAW. ditanya tentang mata pencaharian yang paling baik . Beliau menjawab, Seseorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur”
 (HR. Bajjar, Hakim menyahihkannya dari Rifa’ah Ibn Rafi )
Maksud mabrur dalam hadist adalah jual beli yang terhindar dari usaha tipu-menipu dan merugikan orang lain.
c)      Ijma
            Ulama telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkanya itu, harus diganti dengan barang lainnyayang sesuai.

F. Rukun dan pelaksanaan jual beli
Rukun jual menurut jimhur Ulama ada empat :[8]
a)      Bai’ (penjual)
b)      Mustari (pembeli)
c)      Shighat (ijab dan qabul)
Ijab dan Kabul. Ulama fiqh sepakat, bahwa unsur utama dalam jual beli adalah kerelaan antara penjual dan pembeli. Karena kerelaan itu berada dalam hati, maka harus diwujudkan melalui ucapan ijab (dari pihak penjual) dan kabul (dari pihak pembeli).
d)      Ma’qud ‘alaih (benda atau barang).
G. Syarat jual beli
Dalam jual beli terdapat empat syarat. Yaitu syarat terjadinya akad(in’iqad), syarat syah akad, syarat terlaksananya akad (nafadz), dan lujum.
A.    Syarat terjadinya akad (in’iqad).
Adalah syarat yang telah ditetapkan syara,. Jika persyaratan ini tidak terpenuhi, jual beli batal.Syarat ini, ulama Hanafiyah menetapkan empat syarat, yaitu:
1.      Syarat Aqid (orang yang Akad)
Persyaratan aqid sebagai berikut:[9]
a.        Berakal dan mumayyiz
Jual beli yang dilakukan oleh anak kecil yang belum berakal dan orang gila  hukumnya tidak sah. Adapun anak kecil yang sudah mumayyis menurut  Ulama hanafiyah dibolehkan asal bermanfaat secara murni, seperti menerima hibah.
b.      Aqid harus berbilang, sehingga tidaklah sah akad dilakukan seorang diri. Minimal dilakukan dua orang, yaitu pihak penjual dan pembeli.
2.      Syarat dalam akad
Dalam Ijab-Qabul terdapat tiga syarat, yaitui :
a.       Ahli Akad
Menurut ulama Hanafiyah, seorang anak yang berakal dan mumayyiz (berumur tujuh tahun, tetapi belum baligh) dapat menjadi ahli akad. Ulama Malikiyah dan Hanabaliah berpendapat bahwa akad anak mumayyiz bergantung pada seizin walinya. Menurut Syafi’iyah, anak mumayyiz yang belum baligh tidak boleh melakukan melakukan akad sebab ia belum dapat menjaga agama dan hartanya (masih bodoh). Allah SWT. Berfirman :
وَلاَ تُؤْتُواْ السُّفَهَاء أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللّهُ لَكُمْ قِيَاماً …..
Artinya ;
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) kamu yang Dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan.” (Q.S. An-Nisa : 5)
Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa yang disebut orang-orang yang belum sempurna akalnya pada ayat di atas adalah anak yatim yang masih kecil atau orang dewasa yang tidak mampu mengurus hartanya.[10]
b.      Qabul harus sesuai dengan ijab.
c.       Ijab dan Qabul harus bersatu, yakni berhubungan antara ijab dan qabul walaupun tempatnya tidak bersatu.
3.      Tempat Akad
Harus bersatu atau berhubungan antara ijab dan qabul.
4.      Ma’qud’alaih (Objek Akad)
Ma’qud’alaih harus memenuhi empat syarat :
a.        Ma’qud alaih harus ada, tidak boleh akad atas barang – barang yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak ada, seperti jual-beli buah yang belum tampak, atau jual beli anak hewan yang masih dalam kandungan.
b.      Harta harus kuat, tetap, dan bernilai, yakni benda yang mungkin dimanfaatkan dan disimpan.
c.       Benda tersebut milik sendiri.
d.      Dapat diserahkan.

B.     Syarat terlaksananya akad (Nafadz).
1.      Benda dimliki aqid atau berkuasa untuk akad.
2.      Pada benda tidak terdapat milik orang lain.
Maka tidak boleh menjual barang sewaan atau barang gadai, karena barang tersebut bukan milik sendiri, kecuali dizinkan oleh pemilik sebenarnya, yakni jual-beli yang ditangguhkan (mauquf).
Berdasarkan nafadz dan waqaf (penagguhan), jual beli terbagi dua :
a.       Jual-beli Nafidz
Jual-beli yang dilakukan oleh orang yang telah memenuhi syarat dan rukun jual-beli sehingga jual-beli tersebut dikategorikan sah.
b.      Jual-beli mauquf.
Jual-beli yang dilakukan oleh orang yang tidak memenuhi persyaratan nafadz, yakni bukan milik dan tidak kuasa untuk melakukan akad, seperti jual-beli fudhul (jual-beli beli milik orang lain tanpa ada izin). Jika pemiliknya mengizinkan jual-beli fudhul dipandang sah. Sebaliknya, jika pemilik tidak mengizinkan dipandang batal.[11]
C.     Syarat sah akad dalam jual beli
Syarat ini terbagi atas dua bagian, yaitu umum dan khusus:
1.      Syarat umum
Adalah syarat-syarat yang berhubungan dengan semua bentuk jual-beli yang telah ditetapkan syara’. Diantaranya adalah syarat-syarat yang telah disebutkan di atas . juga harus terhindar kecacatan jual-beli, yaitu ketidak jelasan, keterpaksaan, pembatasan dengan waktu (tauqid), penipuan (gharar), kemaharatan, dan persyaratan yang merusak lainnya.[12]


2.      Syarat khusus
Adalah syarat-syarat yang hanya ada pada barang-barang ternentu. Persyaratannya sebagai berikut:
a.       Barang yang diperjual belikan harus dapat dipegag, yaitu pada jual-beli benda yang harus dipegang sebab apabila dilepaskan akan rusak atau hilang.
b.      Harga awal harus diketahui, yaitu pada jual-beli amanat.
c.       Serah terima benda dilakukan sebelumnya berpisah, yaitu pada jual-beli yang bendanya ada ditempat.
d.      Terpenuhi syarat penerimaan.
e.       Harus seimbang dalam ukuran timbangan, yaitu dalam jual-beli yang memasuki ukuran atau timbangan.
f.        Barang yang diperjualbelikan sudah menjadi tanggung jawabnya. Oleh karena itu, tidak boleh menjual barang yang masih berada di tangan penjual.
D.    Syarat Lujum (kepastian)
Syarat ini hanya ada satu, yaitu akad jual-beli harus terlepas atau terbebas dari khiyar (pilihan) yang berkaitan dengan kedua pihak yang akad dan akan menyebabkan batalnya akad.[13]

H. Bentuk-Bentuk Jual Beli
Ulama hanafiyah membagi jual beli dari segi sah atau tidaknya menjadi tiga bentuk, yaitu:
1. Jual beli yang sahih
Suatu jual beli dikatakan sebagai jaul beli yang sahih apabila jual beli itu disyariatkan, memenuhi rukun dan syarat yang ditentukan; bukan milik orang lain, tidak tergantung pada hak khiyar lagi.
2. Jual beli yang batal
Jual beli dikatakan sebagai jual beli yang batal apabila salah satu atau seluruh rukunya tidak terpenuhi, atau jual beli itu pada dasarnya dan sifatnya tidak disyariatkan, seperti jual beli yang dilakukan anak-anak, orang gila, atau barang barang yang dijual itu barang yang diharamkan syara’, seperti bangkai darah, babi, dan khamar.
            Jenis-jenis jual beli yang batil adalah :
a)      Jual beli sesuatu yang tidak ada
b)      Menjual barang yang tidak boleh diserahkan pada pembeli.
c)      Jual beli yang mengandung unsur penipuan.
d)      Jual beli benda-benda najis
e)      Jual beli al-‘arbun
f)       Memperjual belikan air sungai, air danau, air laut, dan air yang tidak boleh dimiliki seseorang.[14]

3. Jual beli yang fasid
Ulama Hanfiayah yang membedakan jual beli fasid dengan jual beli yang batal. Apabila kerusakan pada  jual beli itu terkait dengan barang yang dijual belikan, maka hukumnya batal, seperti memperjualbelikan benda-benda haram (khamar, babi, dan darah). Apabila kerusakan jual beli itu menyangkut harga barang dan boleh diperbaiki, maka jual beli itu dinamakan fasid.
Akan tetapi, jumhur ulama tidak membedakan antara jual beli yang fasid dengan jual beli yang batal. Menurut mereka jual beli itu terbagi dua, yaitu jual beli yang sahih dan jual beli yang batal. Apabila rukun dan syarat jual beli terpenuhi, maka jual beli sah. Sebaliknya, apabila salah satu rukun atau syarat jual beli tidak terpenuhi, maka jual beli itu batal.[15]



BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Setelah kita menelaah dan menjumpai beberapa materi diatas, bahwa bertransaksi atau hubungan dibutukan sebuah akad, yang mana akad tersebut sangat bermacam-macam sesuai dengan kebutuhan, misalkan saja akad jual beli. Bisa diketahui Jual beli ialah suatu perjanjian tukar menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara ridha di antara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati.
 Maka dapat kita simpulkan bahwa hukum jual beli pada dasarnya diperbolehkan oleh ajaran islam. Kebolehan ini didasarkan kepada kepada firman Allah yang terjemahannya sebagai berikut :” janganlah kamu memakan harta diantara kamu dengan jalan batal melainkan dengan jalan jual beli, suka sama suka...”(Q.S An-Nisa’ : 29) Dan Hadist Nabi SAW, yang artinya sebagai berikut : “ Bahwa nabi SAW ditanya tentang, mata pencaharian apakah yang paling baik ? jawabnya : seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih”.(H.R. Al-Bazzar) maka dari itu ulama sepakat mengenai kebolehan berjual beli ini sebagai salah satu usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup.







DAFTAR PUSTAKA

Haroen, Nasrun. 2007. Fiqh Muamalah, Jakarta: Gaya Media Pratama.
Mardani. 2012. Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah. Jakarta: Kencana.
Suhendi, Hendi. 2007. Fiqih Muamalah. Bandung: Raja Grafindo.
Syafi’,I Rachmat. 2004. Dasar-Dasar Fiqih Muamalah. Bandung: Pustaka Setia.




[1] Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah (Bandung:RajaGrafindo, 2007), hlm. 44.
[2] Ibid., hal. 46.
[3] Sohari Sahrani, Ru’fah Abdullah, Fikih Muamalah (Bogor:Ghalia Indonesia, 2011), hlm. 46.
[4] Mardani, Fiqih Ekonomi Syariah: Fiqih Muamalah (Jakarta: Kencana,2012), hlm. 101.
[5] Rachamat Syafi’i, Fiqih Muamalah (Bandung: Pustaka Setia, 2012), hlm. 73.
[6] Ibid.,hal.74.
[7]   Ibid., hal. 75.
[8]  Ibid.,hal.76.
9  Ibid., hal. 77.
[10] Ibid., hal. 78.
[11] Ibid., hal. 79.
[12] Ibid., hal. 80.
[13] Ibid., hal. 80.
[14] Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah, (jakarta:Gaya Media Pratama, 2007), hlm.125.
[15] Ibid., hal. 126.

0 komentar:

Posting Komentar